Surat untuk Satu Tahun yang Tidak Pernah Mudah

1754 kata
9 menit
Surat untuk Satu Tahun yang Tidak Pernah Mudah

Sebelum aku mulai ngetik ini, baiknya aku jujur dulu. Cerita ini dari sudut pandangku. Nggak ada yang aku lebih-lebihkan. Mungkin malah ada yang aku kurangi, soalnya ini bukan cuma ceritaku. Ini juga ceritanya dia. Privasi kita berdua tetep harus dijaga, walau udah di ujung yang begini. Jadi anggap aja ini surat yang nggak pernah aku kirim. Monolog tengah malam yang perlu ditulis supaya hatiku nggak meledak sendiri.


Satu tahun yang lalu, hidupku kenalan sama seseorang yang bahkan di mimpi paling liar pun nggak pernah aku bayangin. Lewat satu pesan di Instagram. Cuma satu pesan kecil. Nggak ada yang spesial. Nggak ada yang bikin deg-degan. Tapi entah gimana, dari notifikasi itu aku nemuin seseorang yang bikin hatiku belajar arti sayang yang sebenernya.

Dan sekarang, duduk di sini satu tahun kemudian, aku masih nggak habis pikir. Satu pesan doang bisa ngubah segalanya. Kayak beli lotre tanpa niat menang, eh taunya dapet jackpot. Jackpot yang sekarang bikin aku nangis juga sih, tapi ya sudahlah.


Empat bulan pertama kita jalani dengan jarak. LDR. Siapa yang pernah ngalamin pasti tahu rasanya. Bangun pagi, yang pertama dicari bukan sarapan tapi layar HP. Nunggu balesan yang kadang lama banget, lama sampai kamu mulai mikir macem-macem sendiri.

Kita belajar saling memahami dari balik layar. Saling nebak mood lewat emoji. Dengerin suara yang kadang putus-putus karena sinyal jelek. Dan jujur, pertengkaran udah jadi tamu yang nggak pernah permisi. Dari yang masih malu-malu, sampai di titik kita berdua ngomong tanpa mikir panjang.

Pola itu terus berulang. Sampai di apa yang mungkin bisa aku sebut sebagai “akhir”. Tapi di saat kayak gini, aku bahkan nggak yakin ini beneran akhir atau cuma jeda panjang sebelum kita ketemu lagi, pelukan, dan lupa semua sakit.

Aku capek. Bukan karena nggak sayang. Capek karena hubungan ini rasanya kayak lari di treadmill. Keringetan, napas ngos-ngosan, tapi nggak pernah sampai mana-mana. Capek karena kita selalu saling nyalahin, sama-sama keras kepala, sama-sama nunggu yang lain ngalah duluan. Padahal di balik semua ego itu, kita sama-sama takut kehilangan. Dua orang yang sama-sama takut kehilangan tapi malah saling dorong menjauh. Lucu ya.


Akhir Agustus 2025. Pertama kali kita ketemu langsung. Semua yang selama ini cuma ada di layar jadi nyata. Aku bisa liat senyumnya bukan dari foto, tapi langsung di depan mata.

Sejak hari itu semuanya berubah. Kita mulai sering ketemu, seminggu sekali atau dua kali. Tiap pertemuan rasanya kayak hadiah yang nggak pernah cukup. Semua udah kita lalui bareng. Ketawa sampai perut sakit. Diem-dieman yang bikin dada sesak.

Nggak ada yang sempurna, tapi semuanya terasa nyata. Dan justru di situlah letak cantiknya.


Dari hari pertama aku udah tahu kalau dia beda. Ada sesuatu yang bikin aku nggak mau lepas. Bukan obsesi, bukan karena nggak bisa move on. Aku sayang dia. Titik.

Perasaan itu bikin aku rela bersabar lebih dari yang seharusnya. Sabar waktu dia ngilang tanpa kabar. Sabar waktu dia ngomong hal-hal yang bikin dada perih. Sabar sampai di titik yang mungkin orang lain sebut nggak wajar. Aku sampai ngemis. Iya, ngemis. Bukan ngemis materi, tapi ngemis perhatian. Supaya dia nggak pergi.

Setiap kali kita putus, setiap kali kita nyambung lagi, aku selalu jadi yang paling dulu ngulurin tangan. Bukan karena aku nggak punya harga diri. Tapi karena harga diriku waktu itu udah nyatu sama harapan bahwa dia akan berubah. Bahwa kita akan lebih baik. Bahwa semua ini bakal ada ujungnya yang manis.


Tapi hidup nggak pernah seindah rencana. Ada beberapa kejadian yang nggak bisa aku lupain begitu aja. Kejadian yang ninggalin bekas. Yang bikin aku ngerasa dikhianati sama orang yang paling aku percaya.

Anehnya, di saat hati udah sakit, di saat logika udah teriak buat pergi, aku masih aja milih bertahan. Mungkin orang bakal bilang aku bodoh. Mungkin mereka bilang aku terlalu naif. Tapi mereka nggak ngerasain gimana rasanya punya seseorang yang bikin dunia terasa lebih hangat. Yang bikin hari-hari biasa jadi punya makna. Yang bikin kamu rela nahan sakit demi satu senyum dia.

Jadi ya, aku bertahan. Pilihanku waktu itu cuma satu. Dia.


Hari-hari terus berganti. Dan pola kita? Ya gitu-gitu aja. Habis berantem, kita ketemu. Habis ketemu, kita ketawa. Habis ketawa, entah gimana caranya, kita berantem lagi.

Siklus yang nggak pernah berhenti. Kayak lagu yang di-repeat. Atau mungkin bosen, tapi nggak bisa berhenti dengerin.

Aku sering mikir, sebenernya apa yang salah? Apa karena umur kita yang beda jauh, bikin cara pandang kita ke hidup juga beda? Apa karena ekspektasi kita sama hubungan ini nggak pernah ketemu di tengah?

Aku nggak mau nyalahin dia, karena aku juga tahu aku nggak sempurna. Kita berdua sama-sama punya bagian yang bikin ini semua rusak. Nggak ada yang salah total, tapi juga nggak ada yang benar total. Kayak dua orang yang sama-sama pegang ujung tali, tarik-tarikan, dan nggak ada yang mau lepas sementara talinya makin lama makin bikin tangan lecet.


Tapi di balik semua kekacauan itu, ada satu hal yang nggak pernah berubah. Aku masih pengen menua bareng dia.

Bayangan itu masih bikin dada aku anget tiap kali muncul. Aku masih inget gimana bahagianya aku waktu bareng dia. Bukan bahagia yang meledak-ledak, tapi bahagia yang sunyi. Yang dateng perlahan. Yang bikin kamu ngerasa “oh, ternyata di sini tempat aku pulang.”

Perasaan itu nggak pernah benar-benar mati. Dia cuma tidur. Nunggu di sudut hati yang paling dalam. Aku tuh sebenernya udah nyiapin semuanya di kepala. Gimana kalau tua bareng. Gimana kalau punya rumah kecil. Gimana kalau tiap pagi bangun dan liat muka yang sama. Itu harapan yang pernah aku pegang erat-erat, bahkan di hari-hari paling buruk sekalipun.


Tapi beberapa minggu terakhir, semuanya berubah. Aku mulai ngerasa lelah yang beda dari sebelumnya. Bukan lelah biasa yang bisa ilang cuma dengan tidur. Ini lelah yang nempel di tulang. Yang bikin bangun pagi aja rasanya berat. Yang bikin kamu ngelirip HP dan berharap ada kabar tapi di saat yang sama takut kalau kabarnya dateng.

Kenapa hubungan yang seharusnya jadi tempat berlindung malah jadi tempat yang bikin luka?

Sayangnya masih ada, masih banyak malah. Tapi sayang aja nggak cukup kan? Hubungan yang layak, yang harmonis, yang bikin kedua orang di dalamnya tumbuh bukan hancur. Itu yang aku mau. Itu yang seharusnya kita punya. Kenapa hal sesederhana itu terasa mustahil buat kita?


Aku udah ngasih banyak dari diriku. Waktu, energi, materi. Jangan ditanya.

Sejak awal aku udah tahu bahwa mencintai dia itu kayak taruhan besar. Kayak judi yang kamu tahu risikonya tinggi, tapi kamu tetap pasang karena kamu percaya kamu bakal menang. Dan kalau gagal? Aku udah kehilangan banyak. Waktu yang nggak bisa diputar balik. Energi yang udah terkuras. Materi yang bisa aku pakai buat hal lain.

Sementara dia? Dia masih muda. Dia masih punya banyak waktu. Dan kadang, di tengah malam yang sunyi, aku mikir. Apakah dia sadar berapa banyak yang udah aku korbankan? Atau semua itu cuma keliatan besar di mataku, tapi biasa aja di matanya?

Aku tuh kayak orang yang udah taruhan semua chip di meja poker, sementara dia masih punya chip cadangan di saku. Beda banget posisinya. Dan itu bikin takut, jujur.


Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus muter di kepala. Apakah dia beneran serius? Atau dia cuma kesepian dan aku kebetulan ada di waktu yang tepat? Apakah dia benar-benar sayang, atau aku cuma dimanfaatkan buat ngisi kekosongan?

Bukan tuduhan. Mereka cuma keraguan yang tumbuh karena aku terlalu lama kasih tanpa pernah yakin apa yang aku terima balik setara. Dan apakah itu yang bikin aku lelah? Mungkin. Atau mungkin lelah itu dateng karena aku sadar bahwa aku nggak bisa terus-terusan jadi satu-satunya yang berjuang. Kayak mendaki gunung sendirian sambil gendong ransel dua orang. Lama-lama lutut juga nggak kuat.


Dan ironisnya, hari ini. Tepat satu tahun sejak pesan pertama itu mendarat di inbox-ku. Hari yang seharusnya kita rayain. Kita malah diem-dieman.

Nggak ada kabar. Nggak ada ucapan. Sudah dua hari. Dua hari yang rasanya lebih panjang dari empat bulan LDR kita dulu. Dua hari di mana aku bolak-balik buka HP, liat profilnya, ngetik pesan, hapus lagi, ngetik lagi, hapus lagi. Karena apa yang harus aku bilang? “Selamat satu tahun”? Atau “Kamu baik-baik aja?” Atau cukup diem dan berharap dia yang duluan nyapa?

Aku nggak tahu. Dan ketidak-tahuan itulah yang paling menyakitkan. Kayak nunggu kereta di stasiun yang udah nggak ada jadwalnya lagi.


Aku masih berharap. Itu yang paling jujur bisa aku bilang. Harapan itu masih ada. Kecil. Rapuh. Tapi masih hidup.

Aku berharap dia baca ini dan ngerasa sesuatu. Ngerasa kehilangan. Sadar bahwa ada seseorang di luar sana yang udah ngasih semuanya.

Tapi di saat yang sama, aku lelah. Dan lelah itu nggak bisa dinegosiasikan sama harapan. Kamu bisa berharap setinggi langit, tapi kalau badan dan hatimu udah nggak kuat ngangkat, ya akhirnya kamu harus taruh semuanya dan duduk sebentar.

Mungkin aku harus nyerah. Bukan karena aku mau. Tapi karena mungkin ini satu-satunya cara buat aku nggak hancur sepenuhnya. Dan kalau dia baca ini terus nanya “kenapa?”, aku nggak akan nyalahin dia. Ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang aku yang udah nggak punya tenaga buat terus-terusan ngelakuin ini sendirian.


Meskipun begitu, ada satu hal yang nggak bisa aku bohongin. Aku kangen.

Kangen momen-momen receh yang sekarang rasanya mahal banget. Ketawa bareng sampai orang-orang sekitar ngeliatin kita kayak orang gila. Jalan bareng tanpa tujuan yang jelas. Hujan yang bikin kita berteduh bareng, panas yang bikin kita cari es teler di pinggir jalan.

Momen kecil yang waktu itu biasa aja, sekarang jadi kenangan yang nggak bisa aku ganti. Dan mungkin itu emang sifat rindu. Dia dateng nggak pas kamu lagi sedih, tapi pas kamu lagi inget hal-hal kecil yang bikin kamu ngerasa pernah bahagia. Kayak nemu foto lama di saku celana yang udah nggak pernah dipake. Nggak nyangka, tapi bikin senyum sendiri.


Jadi kembali ke pertanyaan awal: apakah ini yang terakhir?

Aku nggak tahu. Jujur, aku bener-bener nggak tahu. Hatiku sekarang campur aduk. Ada marah, ada sedih, ada rindu, ada lega, ada takut. Ada harapan yang masih keras kepala nggak mau mati.

Apakah aku bakal kuat kalau harus lepas? Aku nggak tahu. Mungkin kuat, mungkin nggak. Tapi yang aku tahu, aku juga nggak yakin bisa terus bertahan kalau semuanya tetap kayak gini. Nggak ada perubahan. Nggak ada yang ngalah. Cuma siklus yang nggak berujung. Dan hidup itu terlalu pendek buat diabisin di hubungan yang bikin kamu nanya “apa aku cukup?” setiap hari.


Apapun yang terjadi sama kamu di sana, di tempat yang sekarang nggak bisa aku jangkau, aku cuma bisa harap kamu baik-baik aja. Aku harap kamu sehat, karena kamu selalu nggak jaga diri sendiri. Aku harap semua urusanmu dilancarkan. Aku harap cita-citamu tercapai, karena aku tahu kamu punya mimpi-mimpi yang layak dikejar.

Semua itu aku ucapin dengan tulus. Bukan karena aku mau terlihat dewasa atau baik hati. Tapi karena meski semuanya berakhir kayak gini, aku tetap nggak bisa berharap buruk sama seseorang yang pernah jadi bagian terindah di hidupku.


Surat ini ditulis oleh seseorang yang pernah mencintaimu dengan cara yang mungkin nggak sempurna, tapi dengan ketulusan yang nggak pernah palsu.

Gilang M

Untukmu, belahan jiwaku. Melani Sajdah Annisa.

Dukung & Bagikan

Kalau tulisan ini membantu, kamu bisa bagikan atau dukung blog ini.

Dukungan
Surat untuk Satu Tahun yang Tidak Pernah Mudah
https://gilanx.pages.dev/posts/surat-untuk-satu-tahun-yang-tidak-pernah-mudah/
Penulis
Gilanx Cheetz
Terbit
2026-04-29
Lisensi
CC BY-NC-SA 4.0

Komentar

Pengumuman
Selamat datang. Di sini saya nyimpan catatan, eksperimen, dan tulisan ringan soal hal yang lagi dipelajari.
Kategori
Tag
Statistik Situs
Tulisan
5
Kategori
3
Tag
10
Total Kata
37,329
Hari Aktif
0 hari
Update Terakhir
0 hari lalu

Isi Tulisan